-->

Ajal jadi Penyemangat

Dua nikmat yang kebanyakan kita lalai terhadap tujuan hidup kita sehingga kita lupa mempersiapkan bekal kehidupan setelah kematian, dua nikmat itu adalah luamng waktu dan Kesehatan demikian kurang lebih Nabi Shallalohu alaihi wa sallam mengingatkan kita dalam sabdanya.

 Benar, hiruk-pikuk kehidupan dunia ini membuat kebanyakan kita lupa dan lalai akan maksud tujuan kita diciptakan. Kehidupan dunia bak selimut hangat di subuh buta membuai kita ke alam mimpi yang sebenarnya tidak nyata. Dunia ini manis dan hijau dua permisalan yang nabi sabdakan sebagai peringatan dan nasihat kepada kita jangan sampai kita tertipu dan terpedaya oleh indah dan lezatnya dunia sehingga kita terlalaikan kepada tugas kita sebagai hamba Alloh yaitu ibadah mengabdi kepada Alloh Robb pengurus alam semesta. Dunia dan isinya adalah ujian siapa diantara kita yang paling baik amalnya dan siapa diantara kita yang terperosok, tertipu oleh perhiasan dunia sehingga kita terhinakan pada akhirnya.

 Dunia adalah jembatan kehidupan, sebagaimana fungsinya jembatan adalah wasilah, penghubung antara kehidupan kepada kehidupan berikutnya. Apakah kita tidak boleh menikmati kehidupan dunia?, oh tentu boleh bahkan sangat boleh, yang tidak boleh kita terlena, lalai dengannya. Kita semestinya memperlakukan dunia dengan benar sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda ini nampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamaannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musin semi menyebabkan binatang ternak mati kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga ketika perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan juga kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda ini terasa manis. Barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barang siapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikan binatang yang makan rerumputan akan tetapi ia tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya ia pun celaka karenanya).” (HR Bukhari dan Muslim)

maka nikmati dunia tapi jangan tertipu dangan tipu-dayanya, jangan terjerumus dengan perangkapnya, jangan terpesona sehingga kita lupa tujuan, jangan buta dengan pesonanya, jangan lupa kita akan meninggalkannya untuk memasuki kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan dunia yaitu akhirat. Karena Akhirat lebih baik bagi kita daripada kehidupan dunia dan akherat lebih kekal dari dunia. Barang siapa yamg Bahagia di akherat maka dia akan Bahagia selamanya, tapi sebaliknyab jika kita celaka di akherat maka celaka, hina yang sangat panjajng bahakan selamanya .na’uudzubillah.

Pengingat yang paling ampuh akan semua perkara dunia ini adalah kematian, kematian adalah rahasia Alloh, semestinya menjadi kewaspadaan kita dan menjadi penyemangat kita dalam mempersiapkam masa itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”

(HR. An Nasai, Tirmidzi Ibnu Majah dan Ahmad)


Ingatlah kematian dan persiapkan bekal menghadapi kematian karena itulah orang yang paling cerdas, dengan mengingat kematian maka dia akan bersemangat dan lebih bersungguh-sungguh menjalankan ibadah, membantu lebih khusu’ dalam sholat, karena salah satu cara agar sholat kita khusu’ adalah bayangkan bahwa ini adalah sholat terakhir kita.

Dan takutlah akan su’ul khotimah, khawatirlah jikalau akhir kehidupan kita buruk, dalam keadaan lalai dari mengingat Alloh. Maka senantiasa berjaga-jaga dengan menjadikan setiap waktu yang dilewati menjadi catatan amal kebaikan, sampai ajal menjemput.

 

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu. (Qs. Al Hijr :99)

 

@kangrud