Jiwa Yang Tenang

Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah kepada Robmu dengan Ridho dan Diridhoi

Ads Here

Monday, December 15, 2008

Penjara Kenikmatan

Dari jam mahal ditangannya sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi,sementara sudah hampir 10 menit mobil sama sekali tidak bergerak dan didepannya antrean mobil sedemikian panjang. Dari mobil mewah seri terbarunya Pak Hartawan,, seorang yang sangat kaya nampak gelisah. Sesekali badannya ditegakkan dan melongok ke depan. Sopir pribadinya pun mengamati dari spion tengah tentang kegelisahan sang Majikan. Dari sudut kanan depan tiba-tiba datang seorang wanita dengan pakaian sangat kumal.. Wanita itu tidak memiliki tangan, sementara di pundaknya digantungkan sebuah tas untuk tempat recehan sedekah dari pengendara mobil.

'Jangan dikasih Man!, nanti kebiasaan", perintah Pak Hartawan kepada Pardiman sopirnya. Sopirnyapun pura-pura cuek dan sibuk mengetuk-ngetuk setir, sambil sesekali melirik dari sudut matanya. 3 Menit berlalu namun pengemis wanita itu tetap berdiri disamping mobil seakan-akan memang sangat berhasrat untuk mendapatkan sedekah. "Ah dasar pemalas !, ya udah Man kasih aja recehan, biar cepet pergi!" sekali lagi Pak Hartawan memberikan perintah sambil memainkan gadget terbarunya.

"Nggak ada recehan Pak", jawab Pardiman.

"Ya sudah, kasih aja uang pecahan yang paling kecil", jawab Pak Hartawan.

Akhirnya Pardiman mengambil satu lembar lima puluh ribuan yang merupakan pecahan terkecil di kotak uang dibawah tombol AC. Mendapatkan sedekah lima puluh ribu rupiah, pengemis wanita ini kegirangan, bukan main bahagianya, bahkan saking senangnya sampai lupa berterima kasih.

"Lihat tuh Man, dasar orang tak tahu diri sudah dikasih malah nggak bilang terima kasih. Bagaimana bisa menjadi orang bahagia kalau nggak pernah menghargai pemberian orang lain". Jalanan masih saja macet dan sudah lebih dari satu jam. Di samping kanan badan jalan, Pak Hartawan melihat pengemis wanita tadi sedang makan dengan lahap bersama 4 orang anak kecil. Wajahnya menampakkan gurat kebahagiaan yang tiada tara , sesekali dia melempar senyum senang sambil menatapi mobil yang sedang macet. Pak Hartawan melihat dengan mata nanar. "Betapa bahagianya pengemis itu, hanya dengan lima puluh ribu rupiah dia bisa makan dan mungkin mentraktir 4 orang anaknya sambil tertawa dengan bahagia.". Pak Hartawan melihat wajahnya sendiri di kaca spion tengah mobilnya

"Apa kurangnya aku ini, aku berada dalam mobil mewah, tidak kepanasan. Di dompetku ada uang, ada ATM dengan saldo milyaran. Aku punya harta yang berlimpah ruah. Tapi sudah satu jam ini aku gelisah luar biasa, tidak ada satu hal kebahagiaanpun yang aku nikmati". Dilihatnya Pardiman yang sudah mulai terkantuk-kantuk namun tetap bersiul-siul kecil menyenandungkan lagu dangdut kesukaannya.

"Betapa mudah mereka untuk bahagia". Dari sudut di ruang hatinya terdengar bisikan "Ternyata bahagia tidak ada kaitannya dengan kepemilikan. Mungkin bahagia adalah bagaimana kita memandang sesuatu dan belajar mensyukuri terhadap apa yang kita dapatkan dan menikmatinya" Pak Hartawan tersenyum seakan menemukan sebuah kebahagiaan yang sederhana. Dibukanya pintu kaca mobil dan berteriak memanggil si pengemis wanita. Setelah pengemis itu dekat dengan pintu mobil, Pak Hartawan mengambil dompet dan mengambil 5 lembar ratusan ribu, dia ingin melihat kebahagiaan yang lebih besar. Diulurkan uang 5 lembar kepada sang pengemis.

Pengemis itu justru mundur satu langkah dan berkata, "Maaf Pak, kami sudah kenyang!".

Selesai berujar pengemis itu pergi dan tidak menerima pemberian Pak Hartawan, dan dia melanjutkan kembali bercanda di seberang jalan dengan 4 orang anaknya. Membiarkan Pak Hartawan terbengong-bengong menyaksikan kesederhanaan sebuah kebahagiaan.

4 comments:

Aura Rosena said...

Wah, kisahnya bagus... Sekarang memang banyak orang-orang yang mampu yang nggak peduli sama keadaan sekitarnya. Tapi terkadang benar juga sih pendapat tentang orang Indonesia yang bermental minta-minta. Saya mengalaminya ketika sedang berziarah ke makam kakek-nenek saya di Solo. Di sana, begitu keluar dari makam, saya sekeluarga langsung diserbu oleh orang-orang mulai dari anak kecil sampai tua renta. Ada juga orang yang bajunya bersih dan tubuhnya kelihatan sehat wal afiat ikut juga. Saya sekeluarga tidak mempermasalahkan uang yang diminta. Tapi, tentunya hal itu tidak baik karena mendidik anak yang masih kecil untuk ikut meminta-minta. Belum lagi hal itu pasti terjadi setiap saya datang ke sana.

catatan si bob said...

terima kasih atas ceritanya ... memberi inspirasi ...

hehehehehe

Anonymous said...

subhanallah

SENIRUPAWAN said...

subhanallah