Thursday, August 11, 2016

Selamat Berjuang Adzkiya

Garut kota leluhur, qodarulloh seolah tak mau lepas dari tanah kelahiran enin( baca: nenek) Adzkiya Yumna memulai jihad nya di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Persatuan Islam 73 Garogol Kota Garut. Ingatan kembali menerawang ke masa Adzkiya masih balita, dua tahun di taman kanak-kanak dan enam tahun di sekolah dasar yang baru ia selesaikan. Prestasi akademik Adzkiya termasuk biasa-biasa saja nilai Nemnya hanya rata-rata tujuh koma, hal ini tidak membuat saya dan ibunya kecewa karena itulah hasil usaha maksimalnya dan yang terpenting bukan nilai angka-angka yang menjadi tujuan kami, yaa.. walaupun akan lebih senang jika kami melihat nilainya lebih besar hehehehe..

Disamping itu yang kami bangga dari Adzkiya adalah beberapa lembaran kecil sederhana penghargaan dari sekolah atasnya sebagai prestasinya sebagai siswa terajin dan siswa penuh inisiatif Walhamdulillah….

Mondok di Pesantren adalah pilihannya dan Adzkiya sudah setuju untuk mondok di sana dengan tanpa paksaan dari kami. Setelah kami pilihkan beberapa pondok di sekitar Subang, Cikole dan Bandung bahkan saya sempat tawarkan pondok yang berada si kota Solo kota leluhur mbahnya, akhirnya qodarulloh Garut adalah pilihannya.


Pekan banjir air mata

Sebagai orang tua yang baru pertama kalinya memondokkan anaknya, kekhawatiran, kegundahan, kegalauan atau apatah namanya menyelimuti kami. Kami melepas Adzkiya di pondok dengan menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan Adzkiya. Lambaian tangan perpisahan menanamkan kesan yang begitu dalam di dalam hati, kami merasakan jika Adzkiya mempunyai perasaan yang sama. Bahkan ibunya tak tega memeluknya karena khawatir air matanya tumpah tak terbendung. Kami pun pulang kembali ke Bandung dengan berat hati dan pasrah.

Akhirnya air mata sudah tidak tertahan lagi. Malam-malam kami dipenuhi tangisan. Sholat-sholat kami, dalam tidur-tidur kami, dalam diam kami selalu berhias derai air mata rindu dan kekhawatiran. Kami senantiasa mengobati kami sendiri dengan doa-doa kami menitipkan putri kami kepada Sang Pencipta dan Pengurus Alam Semesta Alloh Swt.

Begitu keadaannya selama sepekan hingga akhirnya kami bersiap-siap menengok Adzkiya keesokan harinya. Dengan berboncengan sepeda motor kami meluncur ke kota Garut di hari jumat. Setiba di pondok teman-teman adzkiya memanggil ”adzkiyaaa…adzkiyaaa”. Rupanya mereka mengenali kami sebagai orang tua Adzkiya. Dengan berlari Adzkiya menghampiri ibunya dengan derai air-mata. “Ibuuu…kiya gak betaah pindah aja..” begitu pintanya. Kulihat ibunya pun tak kuasa menahan cucuran air-mata. Aku berpaling dan menjauh berusaha menahan tekanan rasa sedih yang dalam. Timbul dalam benakku untuk mencari sekolah alternatif di Bandung..ah lemah sekali aku. Ibunya berusaha menghiburnya. Adzkiya mengeluh pusing dan sakit perut, dia minta berobat di Bandung saja. Tapi atas saran pihak pondok akhirnya kiya ( begitu kami memanggilnya) berobat di klinik terdekat gak jauh dari pondok. Sebelumnya beberapa teman-temannya yang menyaksikan tangisan kiya, mereka menghampiri dengan memberikan semacam advis atau testimoni menghibur Adzkiya, rupanya beberapa diantaranya adalah kakak kelasnya..cukup melegakan kami atas sikap dewasa dan care beberapa teman-teman dan kakak kelasnya itu. Kulihat istriku, Adzkiya dan beberapa teman-temannya membuat halaqoh kecil di depan kelasnya. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan di pondok suatu peristiwa yang menakjubkan bagi saya. Ternyata istriku lebih kuat dan teguh di banding aku semoga Alloh swt menjaganya.

Akhirnya kamipun membawa adzkiya ke klinik terdekat dan konsul dokter atas keluhannya. Sepulang dari klinik kami tidak langsung kembali ke pondok tapi kami mampir makan baso tidak jauh dari klinik. Ti “halaqoh baso” itulah kami banyak berbincang diantara kami, suasana cair, menyenangkan dan dari mulut Adzkiya sendiri akhirnya kami tau ternyata Adzkiya telah menyelesaikan tiga hari puasa qodho atas inisiatif sendiri..kami memuji Alloh walhamdulillah suatu hal yang kami tidak jumpai ketika kami di rumah. Kami pun memujinya dan terus memberikan semangat. Dan kami ingatkan tentang beberapa hadist keutamaan mencari ilmu kepadanya.

Hari mulai senja dan Adzkiya memberitahukan bahwa ba'da asar nanti ada sekolah agama di pondok. Kamipun bergegas menuju pondok. Tidak lama setiba di pondok kamipun meninggalkan pondok kulihat mata Adzkiya masih berkaca. Sekali lagi lisan dan hati kami berseloroh Yaa Robbanaa kutitipkan Adzkiya padaMu karena Engkaulah sebaik-baik teman dan tempat bersandar segala urusan.


Selamat Berjuang Adzkiya Yumna kami mencintaimu karena Alloh ta ‘alaa semoga Alloh memberikan padamu taufiq kefahaman akan ilmu yang akan menerangi jalan kehidupanmu di dunia ini hingga akhirat nanti. Sebagaimana dulu tatkala pagi buta kau masih belia kau kalahkan setan ( baca: http://jiwayangtenang.blogspot.co.id/2010/11/anakku-lepaskan-3-ikatan-syetan-itu.html) kami yakin dengan pertolongan Alloh kau akan mampu kalahkan syetan dan hawa yang berusaha menghalangimu dari kebaikan.

Hasbiyalloohu wa ni’mal wakil.

Friday, April 8, 2016

Tilawah Menguatkan Hafalan

Ahad, 13 Desember 2015 masjid al-kahfi sebagaimana luar biasa kami bertemu bersama beberapa ikhwan untuk menyetorkan hafalan kepada mursyid kami Ust. Tatan hanafi Al-hafidz. Diluar masjid hujan cukup deras sekaligus menambah syahdu suasana tilawah dan muroja’ah kami, di temani makanan kecil yang dibawa ust. Ade Zaenal dan minuman yang “ngangeni”dari Ust. Misyari Dani begitu kami juluki karena tilawahnya yang “enakeun” wal hamdulillah.
Hari ini tidak banyak ikhwan yang hadir dikarenakan beberapa ijin ada keperluan masing-masing sehingga waktu setor an tidak begitu lama dan selesai agak jauh dari waktu maghrib tiba. Kesempatan waktu di manfaatkan oleh Ust .Tatan untuk menyampaikan tausiah qur’aniyah untuk menyemangati kami yang memang kadang mengalami  “futur”, “ Down”, “ kurang semangat” atau apalah istilahnya yang berkaitan dengan proses menghafal Al-Qur’an.

Sering dalam benak para penghafal al-qur’an terbesit pertanyaan klasik, bagaimana caranya ditengah proses menghafal al-qur’an sementara tuntutan tilawah juga harus terpenuhi. Seolah-olah waktu untuk tilawah tersita oleh waktu menghafal yang tidak hafal-hafal alias sulit melekat di kepala. Inilah yang inti tausiah ust. Tatan Hanafi sore ini bahwa semestinya tilawah tidak menggangu atau terganggu oleh proses kita dalam menghafal Al-Qur’an dan bahkan tilawah sangat mendukung mudah dan kuatnya hafalan kita. Hal yang menjadi penghalang atau sulitnya kita dalam menghafal Al-Quran adalah kondisi hati yang sedang kotor atau tidak bersih alias berkarat. Hal ini pernah di alami ustad Tatan sendiri ketika beliau masih di mahad tahfidz di Jakarta. Beliau merasakan “boring” karena rutinitas menghafal akhirnya beliau berniat “uzlah” mencari suasana baru dalam proses menghafal. Dipilihlah masjid At-Tiin sebagai tempat “uzlah” beliau, dengan menggunakan angkot sesampainya di mesjid At-Tiin beliau memilih tempat di lantai dua alias “mojok”. Namun selama “uzah” itu beliau kesulitan menghafal berkali-kali di hafal tidak nyantol-nyantol akhirnya beliau memutuskan un tuk tilawah saja sebanyak-banyaknnya.

Maka tilawah seharusnya tetap di agendakan dalam hari- hari para penghafal al-Quran. Meminjam istilah salah satu ikhwan kami akh Muhyidin tilawah harus menjadi bahan bakar dalam proses menghafal Al-quran. jika bahan bakarnya habis maka hafalannya tidak akan mateng-mateng.

Imam Syafi’i mengadukan pada gurunya Waki’. Beliau berkata, “Wahai guruku, aku tidak dapat mengulangi hafalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Gurunya, Waki’ lantas berkata, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau merenungkan kembali!”
Imam Syafi’i pun merenung, ia merenungkan keadaan dirinya, “Apa yah dosa yang kira-kira telah kuperbuat?” Beliau pun teringat bahwa pernah suatu saat beliau melihat seorang wanita tanpa sengaja yang sedang menaiki kendaraannya, lantas tersingkap pahanya [ada pula yang mengatakan: yang terlihat adalah mata kakinya]. Lantas setelah itu beliau memalingkan wajahnya. Lantas keluarlah sya’ir.

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Inilah tanda waro’ dari Imam Asy Syafi’i, yaitu kehati-hatian beliau dari maksiat. Beliau melihat kaki wanita yang tidak halal baginya, lantas beliau menyebut dirinya bermaksiat. Sehingga ia lupa terhadap apa yang telah ia hafalkan. Hafalan beliau bisa terganggu karena ketidak-sengajaan. Itu pun sudah mempengaruhi hafalan beliau. Bagaimana lagi pada orang yang senang melihat wajah wanita, aurat mereka atau bahkan melihat bagian dalam tubuh mereka?!

Sungguh, kita memang benar-benar telah terlena dengan maksiat. Lantas maksiat tersebut menutupi hati kita sehingga kita pun sulit melakukan ketaatan, malas untuk beribadah, juga sulit dalam hafalan Al Qur’an dan hafalan ilmu lainnya.

Lantas apa kaitannya dengan tilawah Al-quran?
Sungguh tilawah Al-Quran adalah salah satu obat dari kekotoran hati.

Dari Sayyidina Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, Baginda Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air."
Sahabat bertanya "Ya Rasulullah, apakah pembersihnya?"
Beliau bersabda: "Banyak Mengingat Maut dan Membaca Al-Qur'an " (H.R. Baihaqi, dari Kitab Asy-Syu'ab)

Maka bagi para penghafal Al qur’an tatkala banyak mengalami kendala dalam menghafal maka perbanyaklah  tilawah maka dengan Karunia-Nya Alloh SWT akan memudahkan kita dalam menghafal Al-Quran. Menghafal dan tilawah adalah bagaikan dua sisi mata uang. Selamat mencoba…

Wallohu Alam (kangrud/MMQ News)

Friday, May 10, 2013

Mangingat empat kengerian

Hatim al-Asham rahimahullah mengatakan, “Siapa yang kalbunya tidak pernah mengingat empat kengerian ini, berarti dia adalah orang yang teperdaya dan tidak aman dari kecelakaan.

(1) Saat yaumul mitsaq (hari saat diambilnya perjanjian terhadap ruh manusia) ketika Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Mereka di surga dan Aku tidak peduli, sedangkan mereka (yang lain) di neraka dan Aku tidak peduli’; dia tidak tahu, dirinya termasuk golongan yang mana.

(2) Saat dia diciptakan dalam tiga kegelapan (di dalam rahim), ketika malaikat diseru (untuk mencatat) kebahagiaan atau kesengsaraan (seseorang); dia tidak tahu apakah dirinya termasuk orang yang sengsara atau bahagia.

(3) Hari ditampakkannya amalan (saat sakaratul maut); dia tidak tahu, apakah dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala atau kemurkaan- Nya.

(4) Hari ketika manusia dibangkitkan dalam keadaan yang berbeda-beda; dia tidak tahu jalan mana yang akan ia tempuh di antara dua jalan yang ada.”

(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam hlm. 81) / www.asyariah.com

Wednesday, June 20, 2012

Ditampar Alloh

Roby memang seorang yang temperamental, pemarah, sering jengkel, bicaranya terkadang menimbulkan salah tangkap lawan bicaranya walaupun Roby tidak bermaksud marah dan ini ia sadari sejak lama. Kadang pula istri dan anaknya jadi korban pelampiasan kemarahannya.  Ibunya pun heran sejak kapan si Roby ini memiliki sifat dan karakter seperti ini padahal dahulu Roby adalah putra kesayangan ayah dan ibunya walaupun dia bukanlah anak bungsu bahkan anak paling besar dari lima saudara alias anak “barep”. Sejak SMA Roby adalah anak kebanggaan keluarganya karena selalu menjadi bintang kelas di salah satu sekolah “setengah” favorit di kotanya Bandung (setengah favorit???). Roby tidak pernah tinggalkan sholat berjamaah ke mesjid kecuali kepepet…heheheh, mengaji adalah aktifitas utamanya. Dan iya adalah seorang insinyur lulusan Fakultas Teknik Sipil dari Perguruan Tinggi ternama di kota Solo. Sekarang dia senantiasa disapa dengan sapaan kehormatan masyarakat sekitar tempat tinggalnya dan di tempat dia bekerja. “Ustadz” itulah panggilan yang selalu tersemat di pundaknya walaupun dia tidak begitu suka dengan panggilan itu karena dia tahu panggilan tersebut terlalu mulia baginya sementara ilmu dan karakternya tidaklah menunjukkan seorang ustadz. Tapi Roby tak bisa mengelak karena didukung oleh tampang ustadz yang dimilikinya jenggot dan jidat hitam.

Ahad siang itu memang hari yang penuh amarah dan kejengkelan bagi Roby, apa pasal? Kedua anaknya membuatnya jengkel karena mereka membuat kakacauan dihalaman rumah yang baru saja dia bersihkan. “ plak “  sebuah tamparan mendarat di pantat kedua anaknya yang terbilang masih kecil itu, pecahlah tangisan keduanya dan berlari  memeluk ibunya. Istri Roby yang tentunya ibu kedua anaknya hanya diam, karena kejadian ini bukan satu dua kali terjadi alias beberapa kali dan bicara bukan menyelesaikan masalah untuk meredam amarah Roby. 

Adzan ashar berkumandang. Sebagaimana biasa Roby memenuhi panggilan sholat ashar berjamaah di mesjid yang tidak seberapa jauh dari rumahnya. Selepas Sholat dan dzikir Roby terdiam menyesali apa yang telah diperbuatnya. “Mengapa harus marah bukankah aku sudah mendeklarasikan diri untuk mengendalikan amarah dan kejengkelan, bukankah aku tahu dalil-dalil kejelekan marah dan keutamaan mengendalikannya, bukankah kamu dengan lantang menyampaikan Khutbah diatas mimbar Ied tahun lalu bahwa menahan marah adalah salah satu ciri orang bertaqwa yang dijanjikan surga yang luasnya  seluas langit dan bumi.. Yaa Alloh…” Roby berkata kepada dirinya sendiri. 

************
Tamparan dari Alloh

Senin, selepas sholat subuh Roby bersiap berangkat ke Jakarta untuk bekerja sebagaimana telah berjalan dua bulan terakhir ini. Senang bercampur susah menyertai kepergiannya subuh itu. Senang karena akan terhindar dari penyebab kejengkelan dan susah karena harus berpisah sementara dengan anak-anak dan istri....loh bingung kali si Roby, memang itulah perasaannya subuh itu campur aduk. Sepanjang perjalanan Roby berusaha menghibur diri dengan mendengarkan rekaman siaran ceramah berbahasa sunda dari Ki Balap seorang Kiayi nyentrik asal Bogor. Ceramah yang menceritakan tentang shohibul Hikayat Ki Ahmad itu cukup menghiburnya sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta. Rekaman jadul sekitar tahun enam puluhan ini Roby simpan di dalam ponselnya yang sempat dia banting beberapa hari sebelumnya, tanya kenapa? “MARAH”. 

Panas terik matahari Jakarta tidak menjadikan Roby untuk bermalas-malas melaksanakan aktifitasnya senin siang itu hingga langit barat memerah tanda maghrib. Dengan kopiah krem tua milik almarhum mertuanya, sarung hijau dan koko krem pemberian bosnya tidak lupa parfum “aqua digioman” pilihan sang istri menghiasi langkah Roby ke mesjid jami al-mukhlisin dekat kantor tempat dia bekerja. 

Diantara jamaah mesjid al-mukhlisin ada seorang tua renta yang selalu berada si barisan terdepan dalam shof sholat. Diatas kursinya pak Yono begitu beliau biasa disapa tidak bosan melantunkan sholawat sambil menunggu dikumandangkannya iqomah tanda sholat mulai ditegakkan. Menurut pengakuannya pak Yono berusia sekitar 100 tahun, diusia yang bisa dikatakan uzur itu pak Yono dengan tongkat yang setia menemaninya tetap bersemangat memenuhi panggilan Azan dan berjamaah di mesjid walaupun beliau senantiasa meminta bantuan beberapa orang untuk memboncengnya ke mesjid dan menuntunnya manaiki titian tangga mesjid al-Mukhlisin yang dibangun tiga lantai itu. 

Selepas Sholat maghrib, entah kenapa Roby menyengaja menunggu pak Yono di bibir tangga mesjid. Dia berharap pak Yono memanggilnya untuk diminta bantuan menuntunnya menuruni tangga. Benar juga, pak Yono memanggilnya meminta bantuan. Senyum Roby tersungging menyambut pak Yono. Dituntunnya pak Yono yang masih kuat ingatannya di seusianya namun Pak Yono harus menggunakan alat bantu dengar di telinganya. 
Hal yang biasa dilakukan pak Yono kepada orang yang membantu menuntunnya adalah bercerita tentang dirinya, memberi semangat untuk selalu membantu orang yang membutuhkan bantuan dan tentunya berkenalan. Hal yang selalu Pak Yono katakan dan bisa dikatakan materi reguler adalah sesiapa yang membantu orang tua sepertinya maka dia akan dibantu orang lain tatkala usianya uzur pula beliau ibaratkan seperti seseorang yang menanam padi maka dia akan mendapatkan padi juga, sederhana memang tapi dalam. 

Seperti biasa pak Yono bertanya nama kepada Roby.
“ adik namanya siapa?” tanyanya.
“ Roby Kek” jawab Roby sambil menuntun perlahan Pak Yono menuruni tangga.
“ siapa?? Ruhi??” Tanya pak Yono lagi karena kurang jelas.
“Roby kek R…O… B… Y…Rooo..by” jawab  Roby agak meninggikan volume suaranya.
“ oooo….Roby” pak Yono menyambut.
“ Iya kek…” Roby mengiyakan sambil tersenyum.
“pesan saya buat dik roby.. yaa… kurangi marahnya …kurangi dongkolnya…terutama sama keluarga….ya!!!”kata pak Yono.
“ bagaimana kek??” Roby mendadak budek tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Yono pada dirinya.
“ iyaa…. Kurangi marahnyaaaa… kurangi dongkolnya…terutama kepada keluarga…” tegas Pak Yono.

Serasa ditampar gledek di malam hari  Roby berusaha menahan air matanya, sementara tangannya masih mengenggam tangan pak Yono ingatannya menerawang kepada apa yang telah dilakukan sebelumnya kepada ibu, istri dan kedua anaknya. Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu dengan pak Yono. Roby hanya diam membisu, menyesali perbuatan yang telah dilakukannya selama ini. Ini teguran dari Alloh SWT melalui orang yang tidak disangkanya, orang yang tidak mengenalnya sama sekali kecuali semaghrib itu saja. Tidak pikir panjang Istri dan anaknya di hubunginya, Roby meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya, anaknya hanya mengatakan iya…iya….iya.
Roby berharap kejadian ini menjadi titik awal perubahan yang memang tidak mudah.
“Terima kasih Alloh Kau sudah tampar hamba, bantu aku yaa Alloh, terima kasih pak Yono” bisiknya.


Monday, June 4, 2012

Dua Kuasa Alloh Bertemu


Hari ini Senin,  4 Juni 2012 sekitar pukul 18 atau enam sore terjadi gerhana bulan sebagian.  Namun gerhana kali ini agak berbeda dengan gerhana yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya karena dalam waktu yang sama terjadi pula gempa bumi yang berpusat di sukabumi , dengan goncangan sekitar 6,1 SR tersebut terasa hingga ibukota  Jakarta dan Bandung . Dua peristiwa alam yang semestinya tidak disikapi biasa. Mengapa demikian?

Kabar dari Rasululloh SAW.

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”. Setelah itu, beliau bersabda : “Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hambaNya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani]

Dalam hadist diatas Rasululloh SAW memerintahkan kepada kita untuk banyak berdo’a, mengagungkan Alloh dengan bertakbir, sholat dalam hal ini sholat gerhana dan bersedekah. Yang menarik dari hadist diatas adalah sikap cemburunya Alloh. Bagaimana sebenarnya cemburunya Alloh? Dalam hadist diatas secara khusus disebutkan bahwa cemburunya Alloh jika hambanya berzina namun dalam hadist yang lain Rosululloh Saw bersabda :

"Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu dan cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan atasnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Intinya cemburu adalah sikap ketidak-sukaan, jadi Alloh SWT tidak suka melihat hambanya melakukan tindakan atau perbuatan yg diharamkan-Nya, Alloh cemburu jika kita maksiat kepada-Nya.

Banyak menangis sedikit tertawa

Apa yang rosul ketahui dan kita tidak ketahui? Sehingga jika kita mengetahui apa yang Rosul ketahui kita akan sedikit tertawa dan banyak menangis?

Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.
Anas bin Mâlik radhiyallâhu'anhu –perawi hadits ini- mengatakan,
Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan”.
(HR. Muslim, )

Imam Nawawi rahimahullâh berkata,
“Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis”.
(Syarh Muslim,)

Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allâh Ta’ala dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.

Gempa Bumi

Gempa bumi dalam kacamata ilmu pengetahuan terjadi karena beberapa sebab diantaranya gempa vulkanik Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Kemudian gempa tektonik Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.
Terlepas dari teori diatas mari kita lihat bagaimana paparan uswah kita Rosululloh SAW.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi”( HR. Bukhori)
Diriwayatkan dari salamah bin Nufail as-Sakuni ra beliau bersabda :

“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam… (lalu beliau menuturkan haditsnya) dan sebelum Kiamat ada dua kematian yang sangat dahsyat, dan setelahnya terjadi tahun-tahun yang dipenuhi dengan gempa bumi.”(HR. Ahmad, Thabroni,bazzar dan Abu Ya’la).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Telah terjadi banyak gempa di negeri-negeri bagian utara, timur, dan barat. Namun yang jelas bahwa yang dimaksud dengan banyaknya gempa adalah cakupannya yang menyeluruh dan terjadi secara terus-menerus.”
Hal ini diperkuat dengan riwayat dari ‘Abdullah bin Hawalah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku, lalu beliau berkata, ‘Wahai Ibnu Hawalah! Jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di atas bumi-bumi yang disucikan, maka telah dekatlah gempa, bencana dan masalah-masalah besar, dan hari Kiamat saat itu lebih dekat kepada manusia daripada dekatnya kedua tanganku ini dari kepalamu.” (Musnad Ahmad)

Bahkan Alloh berfirman memperingatkan hambanya tentang peristiwa ini.

“Katakanlah : Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)".[Al An'am : 65]
Maksud dari "azab dari atas" dalam ayat tersebut adalah seperti petir, halilintar yang  menghancurkan, dan angin topan. Adapun makna “azab dari bawah" adalah seperti gempa dan tanah longsor.

Diantara kedua peristiwa gerhana dan gempa

Malam ini Alloh SWT menunjukkan dua kekuasaan-Nya sekaligus, pada malam ini semestinya kita menjadi sepandai-pandai hamba yang mengambil manfaat dari dua peristiwa ini.
Renungkanlah firman Allah SWT: “Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.
Khouf ( takut) dan Roja’ ( harap) adalah sikap yang pantas bagi hamba beriman dalam menyikapi dua peristiwa malam ini.  Takut akan adzab Alloh yang ditimpakan karena sebab semakin maraknya, merajalelanya kemaksiatan di muka bumi dan berharap semoga Alloh menyelamatkan kita dari tindakan maksiat, dosa yang menjadi penyebab segala musibah di muka bumi.
Firman-Nya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).

Renungkan hadist dibawah ini:

Seorang hamba pelaku maksiat (kalau dia mati) maka para hamba, negeri-negeri, pepohonan dan hewan-hewan ternak akan tenang dari (akibat maksiat) nya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka berdoa, mengagungkan Alloh Ta’ala, Sholat dan sedekah adalah amalan terbaik untuk mewujudkan harap dan perlindungan.

Allohu A’lam Bishowab

Thursday, March 10, 2011

Asbab dan Pemilik Asbab ( Status FB Kang Dayat)

biarkanlah kita kehilangan dan tidak menguasasi asbab-asbab (sebab/sarana) itu tetapi jangan sekali-kali kita kehilangan dan tidak memiliki 'ruhul asbab'nya yaitu Allah swt. yang memiliki, berkuasa dan berkehendak atas asbab-asbab itu.........

Status diatas di posting oleh kang Dayat ( begitu saya biasa memanggilnya) di facebook..beliau meminta kepada saya untuk membantu menjelaskan status tersebut atas permintaan seorang temannya yang sangat tawadhu/rendah hati, sangat ingin menggali ilmu yang shahih.

sebenarnya saya merasa tersanjung ( kayak judul sinetron ya..) sekaligus berat hati bagaikan memikul gunung untuk memberikan penjelasan atas status tersebut yang sebenarnya menurut “penerawangan” saya kang Dayat sendiri mampu menjelaskannya karena tidak semata-mata kang Dayat menulis status tersebut kecuali kang Dayat pasti memahaminya walaupun menurut pengakuannya kang Dayat masih jauh dari status yang dibuatnya ( sama kang.....tebih pisan). tapi untuk kebaikan yang lebih besar saya mencoba memberikan sumbangan pemikiran sedikit semoga bermanfaat.

Bismillah………

Kata asbab berasal dari bahasa arab, terbentuk dari kata “Asbaba” kata “Asbaba” merupakan jama’ dari kata “Sababa” yang berarti sebab, maka “Asbaba” mempunyai arti sebab-sebab. terjadinya sesuatu, adanya sesuatu menurut logika karena ada sebabnya, ada yang melatar belakangi sesuatu itu ada. Kita sering dengar asbab an-Nuzul atau asbab al- Wurud. Sebab-sebab atau yang melatar belakangi turunnya ayat atau hadist. Dalam keseharian kita misalnya berlaku hukum sebab akibat. Sebab sesuatu akan berakibat sesuatu. Dan terkadang bahkan sering sebab itu sendiri muncul karena sebab yang lain ( nah loh bingung…bingung deh. Sampai disini berhenti dulu membaca dan rileks….oke). Disinilah point perbedaan cara pandang orang2 yang mengaku tidak percaya akan adanya Tuhan ( baca: Alloh) dengan orang-orang beriman yang percaya akan keberadaan Alloh yang memiliki sifat Al Awwal ( yang Maha Awal tanpa permulaan) dan Al Akhir( yang Maha Akhir tanpa Akhiran).

“ Dialah yang awal dan yang akhir, yang dhohir dan yang bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” ( QS Al Hadid: 3)

dalam status kang Dayat asbab dimaknai sarana, materi, kekayaan, uang, mobil, motor, rumah dan materi kebendaan lainnya yang itu semua adalah bisa menjadi sebab kebaikan juga sebaliknya keburukan tergatung kepada niat dan pemanfaatannya. Dengan mobil bisa menjadi sebab seseorang sampai ke majelis ta’lim dan dengan sebab mobil seseorang bisa sampai pula ke lokalisasi. Naudzubillah…..nah dalam menjalankan amal sholeh atau kebaikan apapun, kita tidak boleh bergantung kepada sebab-sebab ini dalam artian sebab jadi tujuan, sebab jadi “tuhan” secara sadar atau tidak. Saya akan sholat berjamaah jika ada sepeda yang mengantarkan saya ke mesjid, saya akan dakwah jika ada duit yang cukup, saya akan shodaqoh jika gaji saya sudah mencapai nilai segini….., , kalau saya tidak buka toko saya tidak akan mendapatkan rezeki, saya akan ini jika….saya akan itu bila…….saya gak bisa amal sholeh jika……..dan sebagainya. Bergantung kepada asbab dalam menjalankan amal sholeh adalah kerusakan aqidah dan keimanan. Perang Hunain adalah sebuah perang yang mengajarkan kepada kita bagaimana akibat yang diterima kepada orang-orang yang meyakini asbab dari pada kepada Sang Pemilik asbab ( Alloh SWT) peristiwa itu Alloh abadikan dalam Firmannya didalam Al-Quran:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu pada beberapa tempat dan pada Perang Hunain, tatkala kamu bangga dengan jumlahmu yang banyak, tapi tidak berguna sedikitpun. Dan bumi yang luas menjadi sempit bagimu saat itu, hingga kamu berpaling sambil mundur. Kemudian Allah turunkan perasaan tenang kepada Rasul-Nya dan kepada semua orang Mukmin. Dan Ia kirimkan bala tentara yang tidak kamu ketahui dan Ia siksa orang-orang yang kafir. Demikianlah balasan Allah kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25-26)

Awalnya ialah pemimpin-pemimpin kabilah Hawazin dan Tsaqif khawatir kalau setelah Makkah takluk akan tiba giliran mereka ditaklukkan. Karena itu mereka berinisiatif untuk menyerang kaum Muslimin lebih dahulu. Dikumpulkanlah seluruh rakyat berikut semua harta benda yang mereka miliki untuk dibawa ke medan perang. Pasukan mereka itu dipimpin oleh Malik bin Auf, dengan pasukan yang jumlahnya hampir mencapai 30 ribu prajurit.

Di pihak Islam, Nabi mengomandokan kaum Muslimin agar bersiap-siap untuk menghadapi tantangan itu. Pasukan Islam yang terdiri dari sahabat-sahabat Nabi yang telah lama masuk Islam dan yang baru, keluar bersama Nabi. Sesampainya di Lembah Hunain, mereka disergap oleh tentara-tentara Hawazin dan sekutu-sekutunya. Tetapi serbuan mendadak ini berhasil diatasi, sehingga orang-orang sibuk mengambil harta benda yang ditinggalkan oleh musuh. Dalam kesibukan itulah musuh kembali mengambil inisiatif untuk kembali menyerang dan mengakibatkan porak-porandanya pasukan Islam. Mereka semakin kocar-kacir setelah mendengar bahwa Rasulullah telah terbunuh.

Berkali-kali Nabi menyerukan bahwa dirinya masih hidup, tetapi hanya beberapa kelompok Muhajirin dan Anshar saja yang tetap bertahan. Kemudian Abbas kembali meneriakkan hal yang sama sehingga berhasil mengumpulkan pasukan yang sudah kacau-balau itu, bahkan berhasil kembali mengungguli musuh dan memboyong harta rampasan yang berlimpah ruah.

Dalam peristiwa perang hunain tersebut kita bisa ambil pelajaran bagaimana tatkala sebagian dari pasukan muslimin menggantungkan keyakinannya kepada asbab kebendaan yakni banyaknya pasukan, mereka lupa bahwa pertolongan Allohlah yang sebenarnya menentukan. walaupun perang Hunain dimenangkan kaum muslimin dibawah komando Rosululloh SAW sendiri beserta kaum Anshar dan muhajrin yang keimanan mereka tidak diragukan lagi.

Kita lihat bagaimana dengan kejadian perang Badar. Pada peperangan ini, diriwayatkan bahwa Rasulullah senantiasa terus memperbanyak doa, dengan penuh ketundukan dan khusyu’, sehingga Abu Bakar iba melihat beliau seraya berkata “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tanganNya, bergembiralah! Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janjiNya kepadaMu.” Salah satu dari doa beliau, “Ya Allah, inilah orang-orang Quraisy yang datang dengan kecongkakan dan kesombongannya untuk mendustakan RasulMu. Ya Allah, tunaikanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari…”. Sesungguhnya betapa banyak dan besarnya pertolongan yang Allah berikan bagi pasukan Rasulullah Saw. dalam perang Badar. Betapa janji Allah selalu benar, bahwa Allah Swt. pasti akan menolong hambaNya yang menolong agamaNya. Sejarah telah mencatat rahmat Allah yang menyertai orang-orang yang beriman. Kemenangan sejati selalu ada ketika ia bersandingan dengan iman. Walaupun pasukan muslimin dalam jumlah jauh lebih sedikit dibanding pasukan musuh. Dalam peristiwa ini Alloh SWt menolong kaum Muslimin dengan menurunkan pasukan malaikat sebagaimana di firmankan :

“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang ating berturut-turut. “Dan Allah tidak menjadikan (bantuan bala tentara malaikat itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanya dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa Maha Perkasa. (” (Q.S.An Anfal:9-10).

Masih banyak lagi peristiwa yang menjelaskan pentingnya kita menempatkan yakin atau Iman diatas asbab kebendaan.

Jangan salah persepsi dan salah menyikapi.

Dalam menyikapi status kang Dayat diatas jangan disalah artikan bahwa kita tidak membutuhkan asbab itu sama sekali. Jangan jadi kaum jabariyah yang mengatakan, seorang hamba terpaksa (dikendalikan) dalam perbuatan dan tindakannya, manusia tidak memiliki kehendak dan kemampuan. Mereka berlepas tangan dari ikhtiar mereka dalam hal ini kebablasan alias Ghuluw. Alloh memberi kita kemampuan dan kehendak yang harus dijalankan secara lahir. Berdasarkan firman Alloh ta’aala:

''Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu Neraka yang gejolaknya mengepung mereka.'' (Al-Kahfi: 29).

Hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dan lafazh dari riwayat Imam al-Bukhari dari Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya Nabi bersabda. ''Setiap orang dari kalian telah ditentukan tempatnya di Surga atau di Neraka. Seseorang bertanya, 'Kenapa kita tidak pasrah saja, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Jangan, akan tetapi berbuatlah karena masing-masing akan dimudahkan”. Kemudian beliau membaca ayat, 'Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.'' (QS.AI-Lail: 5)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. Al Qashash : 77)

Saya kira untuk menyegarkan ingatan saya kutip kembali status FB kang Dayat di paragraph ini :

“biarkanlah kita kehilangan dan tidak menguasasi asbab-asbab (sebab/sarana) itu tetapi jangan sekali-kali kita kehilangan dan tidak memiliki 'ruhul asbab'nya yaitu Allah swt. yang memiliki, berkuasa dan berkehendak atas asbab-asbab itu.........”

Melihat bayan/penjelasan sebelumnya kita faham bahwa status diatas bukan ditujukan untuk menggembosi kita untuk tidak memperoleh asbab ( asababnya satu aja karena sudah jama’ kalau dua kali kebanyakan heheheh) atau saran kebendaan atau dunia tapi bagaimana kita menempatkan Alloh swt Sang pemilik asbab/sarana itu yang utama di hati kita, jangan sampai karena tidak ada asbab menjadikan kita lemah untuk memperoleh karunia Alloh, karena tidak ada asbab kita terhalang dari jalan Alloh, karena tidak ada asbab kita resign dari amal sholeh. Tapi jadikan asbab yg Alloh takdirkan bagi kita sebagai sarana untuk memperoleh cinta Alloh swt. Jika demikian adanya berarti kita masih yakin dengan asbab kebendaan dan hawa nafsu. Firman Alloh :

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal [nya]. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal [nya]. ( QS An-Nazi’aat: 38-41)

Kecuali jika kita dihadapkan untuk memilih dan tidak ada pilihan lain selain keduanya maka ucapkanlah:

“biarkanlah kita kehilangan dan tidak menguasasi asbab-asbab (sebab/sarana) itu tetapi jangan sekali-kali kita kehilangan dan tidak memiliki 'ruhul asbab'nya yaitu Allah swt. yang memiliki, berkuasa dan berkehendak atas asbab-asbab itu.........”

Wallohu A’lam Astaghfirullohal ‘adhiim


Al faqir ilalloh


Rudy Abu Adzkiya


Monday, November 29, 2010

Anakku... lepaskan 3 ikatan syetan itu!!!

“ sayang, bangun sayang! Subuh …subuh!”, rayuku kepada putriku Adzkiya yumna yang sedang tertidur lelap terbuai mimpi berselimut kelambu merah bercorak bunga ros.

“ yumna..bangun nak sudah hampir terang tuh…”, rayuku kembali dengan menyebut nama belakangnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 04.35. itu artinya waktu subuh sudah lewat sekitar 30 menit waktu Bandung. Adzkiya yumna putri sekaligus anak pertamaku tidak bergeming dari kasurnya yang beralaskan lantai, tepat di ruang tengah “gubuk” ku.

Adzkiya sudah kelas satu sekolah dasar. Sekarang usianya tepat tujuh tahun. Walau sedikit dipaksa untuk sholat lima waktu Adzkiya terbilang sudah terbiasa melakukannya kecuali sholat subuh. Aku dan istriku harus lebih bersabar untuk berusaha membangunkan Adzkiya untuk sholat subuh tepat waktu. Terikat oleh anjuran Nabi Saw aku berusaha untuk membiasakan sholat lima waktu kepada putriku yang satu ini walau usaianya masih terbilang dini. Ibarat pohon selagi masih muda batangnya masih mudah untuk di arahkan, dibengkokkan kesana kemari tergantung kemana arah batang pohon muda itu di arahkan si empunya.

Kiya…bangun sayang”, sambil ku elus-elus kepalanya aku merayu lagi kali ini ku panggil dengan panggilan kecilnya.

Ku usap-usap punggungnya Adzkiya menggeliat berpindah posisi merangkul bantal guling hijau daun disampingnya.

Iya..nanti masih ngantuk….”, gumamnya mulai bangun walau terlelap kembali.

Yumna…..yumna…ayo nak..subuh.subuh,” aku memelas pura pura sedih.

Terbersit dalam hatiku sebuah hadist Nabi saw yang menjelaskan tentang tiga ikatan syetan yang menjadikan manusia malas bangun dari tidurnya untuk sholat.

Kuraih putriku yang masih merangkul bantal gulingnya dan keletakkan kepalanya di lengan kananku.

”Kiya …denger !. ayah mau kasih tau sama kiya ..mau denger gak?..”, tanyaku walau Adzkiya masih terpejam matanya. Adzkiya mengangguk lemah. Itu tandanya dia mendengar apa yang aku katakan padanya.

Bismillah……

“ kiya, …orang itu kalau tidur susah bangun untuk sholat , itu tandanya dia diikat sama syetan, tiga biji lagi ikatannya”, aku menjelaskan sementara mata Adzkiya masih terpejam.

“ah gak pa pa “, kataku dalam hati. Aku yakin Adzkiya mendengarkan.

( penulisan terhenti karena Adzkiya datang menghampiri ku dan membaca apa yang ku tulis dia merebut mouse dan menutup catatan ini sambil tertawa malu…dan langsung ngacir ..pergi mandi ..hehehehe)

Lanjut……

( ehhh istriku memanggil……”ayah….ayah… “, pangil istriku. “ ya…bu ono opo”, jawabku. “ tolong jemur pakaian!..”, istriku meminta. Hihihihi….tugas rutin menanti ..jemur pakaian..si kecil hilmi pun terbangun memanggil..manggil ibunya….buyarrrrr deh..cancel…save)

Lanjut….

“ kiya, …orang kalau tidur susah bangun untuk sholat , itu tandanya dia diikat sama syetan, tiga, lagi ikatannya”, aku menjelaskan sementara mata Adzkiya masih terpejam.

“ah gak pa pa “, kataku dalam hati. Aku yakin Adzkiya mendengarkan.

“kiya…kalau kiya bangun terus baca doa, satu ikatan syetan lepas nak…” aku menjelaskan.

“ ayo nak bangun……baca doanya…”, pintaku. Adzkiya lilir sambil bergumam membaca doa bangun tidur yang memang sudah dihafalnya “ Alhamdulillahilladzii ahyaanaa badamaa amatanaa wailaihinnusyuurr..”. Walau sambil ngantuk-ngantuk, Adzkiya membacanya dengan lengkap agak sedikit belepotan. Matanya masih terpejam tubuhnya masih lemas dipangkuanku. Aku kembali mengusap-usap punggungnya dengan hati berharap Adzkiya terbangun.

Matanya terbuka kecil dan tersenyum kepadaku.

“ ayaaaahhh…..”, Adzkiya memanggil lirih.

“ ayo nak bangun….satu ikatan syetan sudah lepas tuh, kan tadi kiya dah berdoa. Ayo nak kalahkan syetan..masih dua lagi…”, rayuku sambil terus kuusap kepalanya.

“ ayo nak ….wudhu nak…ayo lepaskan ikatan kedua dengan pergi ke air dan ambil wudhu!”,sahutku lagi.

Tidak terlalu lama Adzkiya bangkit seraya berkata “ pipis….pengen pipis”, pintanya sambil masih ngantuk-ngantuk. Kuantarkan Adzkiya menuju kamar mandi untuk menuntunnya berwudhu. Selepas wudhu akupun menegaskan lagi padanya.

“ nah dua syetan sudah kiya kalahkan…kiya hebat bisa mengalahkan syetan…tapi masih satu tuh ..ayo sholat subuh kita habisi syetan sekalian…ayah bantuin deh…”, seruku. Adzkiyapun bergegas mengambil mukena dan sajadahnya dan sholat dua rokaat subuh sambil berkata “ ayah….janghan liatin atuuhh ..”, pintanya malu. Aku tinggalkan Adzkiya sholat subuh dibalik tembok kamar tengah tempat tidurnya sehari-hari. Tak terasa air mataku menetes bahagia melihat putriku Adzkiya yumna bersujud menyembah Robbnya di keheningan pagi yang masih gelap. Segala puji hanya milik-Mu yaa Alloh jadikan hamba yang lemah ini termasuk orang-orang yang menegakkan sholat dan juga anak keturunanku….aminn .