Friday, April 28, 2017

Jelang Ramadhan 1438 H



Rajab mulai masuk pada ujungnya, sya’ban menjelang, Ramadhan datang. Jika saya membaca kisah sikap orang-orang shalih terdahulu terkait ramadhan, saya selalu bertanya mengapa perasaan dan sikapku jauh berbeda dengan mereka?..mereka seolah hamba yang sudah melihat dahsyatnya keutamaan, indahnya kemuliaan, indahnya taman-taman surga, mengerikannya siksa, dahsyatnya neraka dan seterusnya …dan seterusnya.. mari kita lihat bagaimana sikap dan perasaan mereka jauh hari bahkan jauh bulan menjelang Ramadhan.

6 Bulan sebelum Ramadhan

Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Setelah bulan ini tiba, mereka akan menyambutnya sebagai bulan penyuci dosa. Sebagaimana Umar bin Khattab di awal Ramadhan mengatakan, “Selamat datang bulan yang membersihkan kita dari dosa-dosa.”
Bahkan, untuk menyambut bulan yang mulia ini, para khulafaur Rasyidin terbiasa menyampaikan khotbah agar umat tahu tentang keutamaan Ramadhan dan hukum-hukum shaum.

Imam As-Sya’bi meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib berceramah setelah shalat ashar dan subuh untuk menyambut bulan Ramadhan. Di antara isi khutbahnya yaitu:
“Ini adalah bulan penuh berkah. Allah mewajibkan shaum di bulan ini, tapi tidak mewajibkan qiyamul lail. Hati-hatilah kalian, jangan sampai mengatakan. ‘Aku akan shaum jika si fulan shaum. Aku juga akan berbuka jika si fulan berbuka’. Ketahuilah, sesungguhnya shaum itu bukan menahan diri dari makan dan minum. Tapi dari berbohong, berbuat bathil dan hal-hal tak bermanfaat. Jangan mendahului shaum. Jika sudah melihat hilal, berpuasalah. Jika sudah melihatnya berbukalah. Jika hilal tertutup awan, genapkan bulan Sya’ban 30 hari.” (Fadhail Awqat, Al-Baihaqi).

Besarnya harap akan datangnya Ramadhan ini di dorong oleh besarnya kefahaman atau pengetahuan tentang fadhilah, keutamaan dan kemuliaan Ramadhan itu sendiri. Semakin besar pengetahuan kita tentang keutamaan ramadhan sebesar itulah harap kita bertemu dengannya.
Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu mengatakan,

كُوْنُوْا لِقَبُوْلِ اْلعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِاْلعَمَلِ أَلَمْ تَسْمَعُوْا اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَقُوْلُ :إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ

”Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah ’azza wa jalla, [إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ] “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al Maaidah: 27).” (Lathaaiful Ma’arif: 232).

6 bulan setelah Ramadhan

Sebagaimana ucapan Ulama salaf diatas bahwa enam bulan setelah Ramadhan merekapun mengisi hari-hari mereka dengan doa agar amalan yang mereka kerjakan selama Ramadhan diterima Alloh Swt.
Demikianlah sifat yang tertanam dalam diri mereka. Mereka bukanlah kaum yang merasa puas dengan amalan yang telah dikerjakan. Mereka tidaklah termasuk ke dalam golongan yang tertipu akan berbagai amalan yang telah dilakukan. Akan tetapi mereka adalah kaum yang senantiasa merasa khawatir dan takut bahwa amalan yang telah mereka kerjakan justru akan ditolak oleh Allah ta’ala karena adanya kekurangan. Demikianlah sifat seorang mukmin yang mukhlis dalam beribadah kepada Rabb-nya. Allah ta’ala telah menyebutkan karakteristik ini dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُون

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al Mukminun: 60).

Ummul Mukminin, ’Aisyah radliallahu ‘anha ketika mendengar ayat ini, beliau merasa heran dikarenakan tabiat asli manusia ketika telah mengerjakan suatu amal shalih, jiwanya akan merasa senang. Namun dalam ayat ini Allah ta’ala memberitakan suatu kaum yang melakukan amalan shalih, akan tetapi hati mereka justru merasa takut. Maka beliau pun bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ

“Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”
Maka rasulullah pun menjawab,

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

”Tidak wahai ’Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (HR. Tirmidzi nomor 3175. Imam Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihut Tirmidzi nomor 2537).

Dan selepas Ramadhan mereka senantiasa melanjutkan amalan shalih dengan istiqomah. Melanjutkan amalan kebaikan dengan amalan kebaikan lainnya. Karena suatu amal kebaikan jika dikikuti dengan amalan kebaikan lainnya itu adalah tanda diterimanya amalan kebaikan yang pertama dan sebaiknya jika amalan kebaikan di ikuti dengan amalan keburukan maka itu adalah tanda ditolaknya amalan kebaikan yang pertama.
Semoga kita dapat meniru para orang-orang shalih terdahulu. Wallohu Alam Bishowab.

Diambil dari berbagai sumber @kangrud

Thursday, April 6, 2017

REM BLONG DAN PERTOLONGAN ALLOH



Bandung Sabtu, 01 April 2017, aku dan putra ku Hilmi berkemas untuk berangkat silaturahmi kepada salah satu teman kerja, tepatnya di desa Cimenyan Kabupaten Bandung,  desa dengan ketinggian sekitar 700 s/d 1.300 mdpl. Melihat Kota Bandung dari desa ini cukup untuk menghilangkan rasa penat setelah sepekan bekerja. Setelah menempuh jarak dengan waktu normal 30 menit sampailah di desa cimenyan di rumah pak Asep Hidayat. Jengkol, asin, tahu dan lalab-lalaban terhidang dan kami makan siang bersama. Menjelang dhuhur kami pamit pulang. Diperjalanan pulang muncul keinginan untuk melanjutkan perjalanan ke caringin tilu wilayah tertinggi di desa cimenyan yaitu sekitar 1.300 Mdpl. Ku belokkan arah motor matic 125 cc ku ke arah ketinggian. Perjalanan ke caringin tilu melalui jalan berliku dan menanjak cukup tajam. Sampailah di puncak tapi bukan puncak bintang yang memang terdapat di area itu, tapi puncak kekhawatiran saya karena melihat medan tempuh yang cukup tajam aku hentikan motorku di wilayah perkebunan kol, aku tidak tau berapa jauh lagi puncak bintang itu.

Kuputuskan kembali pulang. Melewati jalan menurun cukup tajam ada kekhawatiran dalam hati, aku banyak berdzikir baik ketika pergi menanjak dan kembali turun, takbir dan tasbih menghiasi bibirku sepanjang perjalanan. Begitu pula kuajarkan pada anak lelakiku hilmi agar mengikutinya.
Kedua rem tangan kiri dan kanan bergantian kutekan sepanjang perjalanan menurun. Allohu Akbar rem loss alias blong. Spontan aku berteriak 

,” Loss hilmiiii loooosss rem nyaaa”. 

Motor  melaju semakin kencang karena jalan terus menurun, sementara aku berusaha mengendalikan motorku sedangkan hilmi tidak begitu panik karena dia menganggap aku bercanda, hadeuuhhh…aku melihat tanah kosong di kiri jalan dengan tumpukan kerikil dan tanah, tidak berfikir panjang ku hempaskan motorku ke tumpukan kerikil tersebut dan Alhamdulillah selamat… tak henti-hentinya aku ucapkan syukur kepada Alloh Subhaanahu Wa ta ‘aalaa. Tiba –tiba ada seorang anak kecil muncul entah dari mana datangnya dan berucap

 ,” kunaon pak remna blong?” (kenapa pak remnya blong?)

 “ muhun jang” jawabku, (Iya)

Si anak kecil yang aku gak sempat tanyakan namanya itu langsung mengarahkan saya ke selang air yang menancap di tanah tepi jalan dan menyiramkan air ke arah cakram rem depan, dan wuzzzzzz….ngebulllll. seperti sudah biasa si anak mengajarkan kepadaku jika sudah dingin remnya akan kembali normal, dan itu benar. Sudah kebayang di benakku sebelumnya, aku akan mendorong motorku menurun dari cimenyan ke bawah hadeuuhhh gempoorrrrr....Kuberi tips sebagai rasa terima kasih walau gak seberapa lumayan lah si anak senang dan langsung pergi berlari. Dan aku pulang ke rumah dengan selamat. Anakku hilmi berucap

,” kirain ayah teh main-main” 

kupeluk erat anakku dan kukatakan padanya 

,” ini pertolongan Alloh nak, Jangan lupakan Alloh di setiap saat, sebut namanya, ingatlah Alloh di waktu luang maka Alloh akan mengingat dan menolong kita di waktu kita membutuhkan pertolongannya”.

Hilmi mengangguk.

@kangrud

Thursday, August 11, 2016

Selamat Berjuang Adzkiya

Garut kota leluhur, qodarulloh seolah tak mau lepas dari tanah kelahiran enin( baca: nenek) Adzkiya Yumna memulai jihad nya di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Persatuan Islam 73 Garogol Kota Garut. Ingatan kembali menerawang ke masa Adzkiya masih balita, dua tahun di taman kanak-kanak dan enam tahun di sekolah dasar yang baru ia selesaikan. Prestasi akademik Adzkiya termasuk biasa-biasa saja nilai Nemnya hanya rata-rata tujuh koma, hal ini tidak membuat saya dan ibunya kecewa karena itulah hasil usaha maksimalnya dan yang terpenting bukan nilai angka-angka yang menjadi tujuan kami, yaa.. walaupun akan lebih senang jika kami melihat nilainya lebih besar hehehehe..

Disamping itu yang kami bangga dari Adzkiya adalah beberapa lembaran kecil sederhana penghargaan dari sekolah atasnya sebagai prestasinya sebagai siswa terajin dan siswa penuh inisiatif Walhamdulillah….

Mondok di Pesantren adalah pilihannya dan Adzkiya sudah setuju untuk mondok di sana dengan tanpa paksaan dari kami. Setelah kami pilihkan beberapa pondok di sekitar Subang, Cikole dan Bandung bahkan saya sempat tawarkan pondok yang berada si kota Solo kota leluhur mbahnya, akhirnya qodarulloh Garut adalah pilihannya.


Pekan banjir air mata

Sebagai orang tua yang baru pertama kalinya memondokkan anaknya, kekhawatiran, kegundahan, kegalauan atau apatah namanya menyelimuti kami. Kami melepas Adzkiya di pondok dengan menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan Adzkiya. Lambaian tangan perpisahan menanamkan kesan yang begitu dalam di dalam hati, kami merasakan jika Adzkiya mempunyai perasaan yang sama. Bahkan ibunya tak tega memeluknya karena khawatir air matanya tumpah tak terbendung. Kami pun pulang kembali ke Bandung dengan berat hati dan pasrah.

Akhirnya air mata sudah tidak tertahan lagi. Malam-malam kami dipenuhi tangisan. Sholat-sholat kami, dalam tidur-tidur kami, dalam diam kami selalu berhias derai air mata rindu dan kekhawatiran. Kami senantiasa mengobati kami sendiri dengan doa-doa kami menitipkan putri kami kepada Sang Pencipta dan Pengurus Alam Semesta Alloh Swt.

Begitu keadaannya selama sepekan hingga akhirnya kami bersiap-siap menengok Adzkiya keesokan harinya. Dengan berboncengan sepeda motor kami meluncur ke kota Garut di hari jumat. Setiba di pondok teman-teman adzkiya memanggil ”adzkiyaaa…adzkiyaaa”. Rupanya mereka mengenali kami sebagai orang tua Adzkiya. Dengan berlari Adzkiya menghampiri ibunya dengan derai air-mata. “Ibuuu…kiya gak betaah pindah aja..” begitu pintanya. Kulihat ibunya pun tak kuasa menahan cucuran air-mata. Aku berpaling dan menjauh berusaha menahan tekanan rasa sedih yang dalam. Timbul dalam benakku untuk mencari sekolah alternatif di Bandung..ah lemah sekali aku. Ibunya berusaha menghiburnya. Adzkiya mengeluh pusing dan sakit perut, dia minta berobat di Bandung saja. Tapi atas saran pihak pondok akhirnya kiya ( begitu kami memanggilnya) berobat di klinik terdekat gak jauh dari pondok. Sebelumnya beberapa teman-temannya yang menyaksikan tangisan kiya, mereka menghampiri dengan memberikan semacam advis atau testimoni menghibur Adzkiya, rupanya beberapa diantaranya adalah kakak kelasnya..cukup melegakan kami atas sikap dewasa dan care beberapa teman-teman dan kakak kelasnya itu. Kulihat istriku, Adzkiya dan beberapa teman-temannya membuat halaqoh kecil di depan kelasnya. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan di pondok suatu peristiwa yang menakjubkan bagi saya. Ternyata istriku lebih kuat dan teguh di banding aku semoga Alloh swt menjaganya.

Akhirnya kamipun membawa adzkiya ke klinik terdekat dan konsul dokter atas keluhannya. Sepulang dari klinik kami tidak langsung kembali ke pondok tapi kami mampir makan baso tidak jauh dari klinik. Ti “halaqoh baso” itulah kami banyak berbincang diantara kami, suasana cair, menyenangkan dan dari mulut Adzkiya sendiri akhirnya kami tau ternyata Adzkiya telah menyelesaikan tiga hari puasa qodho atas inisiatif sendiri..kami memuji Alloh walhamdulillah suatu hal yang kami tidak jumpai ketika kami di rumah. Kami pun memujinya dan terus memberikan semangat. Dan kami ingatkan tentang beberapa hadist keutamaan mencari ilmu kepadanya.

Hari mulai senja dan Adzkiya memberitahukan bahwa ba'da asar nanti ada sekolah agama di pondok. Kamipun bergegas menuju pondok. Tidak lama setiba di pondok kamipun meninggalkan pondok kulihat mata Adzkiya masih berkaca. Sekali lagi lisan dan hati kami berseloroh Yaa Robbanaa kutitipkan Adzkiya padaMu karena Engkaulah sebaik-baik teman dan tempat bersandar segala urusan.


Selamat Berjuang Adzkiya Yumna kami mencintaimu karena Alloh ta ‘alaa semoga Alloh memberikan padamu taufiq kefahaman akan ilmu yang akan menerangi jalan kehidupanmu di dunia ini hingga akhirat nanti. Sebagaimana dulu tatkala pagi buta kau masih belia kau kalahkan setan ( baca: http://jiwayangtenang.blogspot.co.id/2010/11/anakku-lepaskan-3-ikatan-syetan-itu.html) kami yakin dengan pertolongan Alloh kau akan mampu kalahkan syetan dan hawa yang berusaha menghalangimu dari kebaikan.

Hasbiyalloohu wa ni’mal wakil.

Friday, April 8, 2016

Tilawah Menguatkan Hafalan

Ahad, 13 Desember 2015 masjid al-kahfi sebagaimana luar biasa kami bertemu bersama beberapa ikhwan untuk menyetorkan hafalan kepada mursyid kami Ust. Tatan hanafi Al-hafidz. Diluar masjid hujan cukup deras sekaligus menambah syahdu suasana tilawah dan muroja’ah kami, di temani makanan kecil yang dibawa ust. Ade Zaenal dan minuman yang “ngangeni”dari Ust. Misyari Dani begitu kami juluki karena tilawahnya yang “enakeun” wal hamdulillah.
Hari ini tidak banyak ikhwan yang hadir dikarenakan beberapa ijin ada keperluan masing-masing sehingga waktu setor an tidak begitu lama dan selesai agak jauh dari waktu maghrib tiba. Kesempatan waktu di manfaatkan oleh Ust .Tatan untuk menyampaikan tausiah qur’aniyah untuk menyemangati kami yang memang kadang mengalami  “futur”, “ Down”, “ kurang semangat” atau apalah istilahnya yang berkaitan dengan proses menghafal Al-Qur’an.

Sering dalam benak para penghafal al-qur’an terbesit pertanyaan klasik, bagaimana caranya ditengah proses menghafal al-qur’an sementara tuntutan tilawah juga harus terpenuhi. Seolah-olah waktu untuk tilawah tersita oleh waktu menghafal yang tidak hafal-hafal alias sulit melekat di kepala. Inilah yang inti tausiah ust. Tatan Hanafi sore ini bahwa semestinya tilawah tidak menggangu atau terganggu oleh proses kita dalam menghafal Al-Qur’an dan bahkan tilawah sangat mendukung mudah dan kuatnya hafalan kita. Hal yang menjadi penghalang atau sulitnya kita dalam menghafal Al-Quran adalah kondisi hati yang sedang kotor atau tidak bersih alias berkarat. Hal ini pernah di alami ustad Tatan sendiri ketika beliau masih di mahad tahfidz di Jakarta. Beliau merasakan “boring” karena rutinitas menghafal akhirnya beliau berniat “uzlah” mencari suasana baru dalam proses menghafal. Dipilihlah masjid At-Tiin sebagai tempat “uzlah” beliau, dengan menggunakan angkot sesampainya di mesjid At-Tiin beliau memilih tempat di lantai dua alias “mojok”. Namun selama “uzah” itu beliau kesulitan menghafal berkali-kali di hafal tidak nyantol-nyantol akhirnya beliau memutuskan un tuk tilawah saja sebanyak-banyaknnya.

Maka tilawah seharusnya tetap di agendakan dalam hari- hari para penghafal al-Quran. Meminjam istilah salah satu ikhwan kami akh Muhyidin tilawah harus menjadi bahan bakar dalam proses menghafal Al-quran. jika bahan bakarnya habis maka hafalannya tidak akan mateng-mateng.

Imam Syafi’i mengadukan pada gurunya Waki’. Beliau berkata, “Wahai guruku, aku tidak dapat mengulangi hafalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Gurunya, Waki’ lantas berkata, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau merenungkan kembali!”
Imam Syafi’i pun merenung, ia merenungkan keadaan dirinya, “Apa yah dosa yang kira-kira telah kuperbuat?” Beliau pun teringat bahwa pernah suatu saat beliau melihat seorang wanita tanpa sengaja yang sedang menaiki kendaraannya, lantas tersingkap pahanya [ada pula yang mengatakan: yang terlihat adalah mata kakinya]. Lantas setelah itu beliau memalingkan wajahnya. Lantas keluarlah sya’ir.

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Inilah tanda waro’ dari Imam Asy Syafi’i, yaitu kehati-hatian beliau dari maksiat. Beliau melihat kaki wanita yang tidak halal baginya, lantas beliau menyebut dirinya bermaksiat. Sehingga ia lupa terhadap apa yang telah ia hafalkan. Hafalan beliau bisa terganggu karena ketidak-sengajaan. Itu pun sudah mempengaruhi hafalan beliau. Bagaimana lagi pada orang yang senang melihat wajah wanita, aurat mereka atau bahkan melihat bagian dalam tubuh mereka?!

Sungguh, kita memang benar-benar telah terlena dengan maksiat. Lantas maksiat tersebut menutupi hati kita sehingga kita pun sulit melakukan ketaatan, malas untuk beribadah, juga sulit dalam hafalan Al Qur’an dan hafalan ilmu lainnya.

Lantas apa kaitannya dengan tilawah Al-quran?
Sungguh tilawah Al-Quran adalah salah satu obat dari kekotoran hati.

Dari Sayyidina Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, Baginda Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air."
Sahabat bertanya "Ya Rasulullah, apakah pembersihnya?"
Beliau bersabda: "Banyak Mengingat Maut dan Membaca Al-Qur'an " (H.R. Baihaqi, dari Kitab Asy-Syu'ab)

Maka bagi para penghafal Al qur’an tatkala banyak mengalami kendala dalam menghafal maka perbanyaklah  tilawah maka dengan Karunia-Nya Alloh SWT akan memudahkan kita dalam menghafal Al-Quran. Menghafal dan tilawah adalah bagaikan dua sisi mata uang. Selamat mencoba…

Wallohu Alam (kangrud/MMQ News)

Friday, May 10, 2013

Mangingat empat kengerian

Hatim al-Asham rahimahullah mengatakan, “Siapa yang kalbunya tidak pernah mengingat empat kengerian ini, berarti dia adalah orang yang teperdaya dan tidak aman dari kecelakaan.

(1) Saat yaumul mitsaq (hari saat diambilnya perjanjian terhadap ruh manusia) ketika Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Mereka di surga dan Aku tidak peduli, sedangkan mereka (yang lain) di neraka dan Aku tidak peduli’; dia tidak tahu, dirinya termasuk golongan yang mana.

(2) Saat dia diciptakan dalam tiga kegelapan (di dalam rahim), ketika malaikat diseru (untuk mencatat) kebahagiaan atau kesengsaraan (seseorang); dia tidak tahu apakah dirinya termasuk orang yang sengsara atau bahagia.

(3) Hari ditampakkannya amalan (saat sakaratul maut); dia tidak tahu, apakah dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala atau kemurkaan- Nya.

(4) Hari ketika manusia dibangkitkan dalam keadaan yang berbeda-beda; dia tidak tahu jalan mana yang akan ia tempuh di antara dua jalan yang ada.”

(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam hlm. 81) / www.asyariah.com

Wednesday, June 20, 2012

Ditampar Alloh

Roby memang seorang yang temperamental, pemarah, sering jengkel, bicaranya terkadang menimbulkan salah tangkap lawan bicaranya walaupun Roby tidak bermaksud marah dan ini ia sadari sejak lama. Kadang pula istri dan anaknya jadi korban pelampiasan kemarahannya.  Ibunya pun heran sejak kapan si Roby ini memiliki sifat dan karakter seperti ini padahal dahulu Roby adalah putra kesayangan ayah dan ibunya walaupun dia bukanlah anak bungsu bahkan anak paling besar dari lima saudara alias anak “barep”. Sejak SMA Roby adalah anak kebanggaan keluarganya karena selalu menjadi bintang kelas di salah satu sekolah “setengah” favorit di kotanya Bandung (setengah favorit???). Roby tidak pernah tinggalkan sholat berjamaah ke mesjid kecuali kepepet…heheheh, mengaji adalah aktifitas utamanya. Dan iya adalah seorang insinyur lulusan Fakultas Teknik Sipil dari Perguruan Tinggi ternama di kota Solo. Sekarang dia senantiasa disapa dengan sapaan kehormatan masyarakat sekitar tempat tinggalnya dan di tempat dia bekerja. “Ustadz” itulah panggilan yang selalu tersemat di pundaknya walaupun dia tidak begitu suka dengan panggilan itu karena dia tahu panggilan tersebut terlalu mulia baginya sementara ilmu dan karakternya tidaklah menunjukkan seorang ustadz. Tapi Roby tak bisa mengelak karena didukung oleh tampang ustadz yang dimilikinya jenggot dan jidat hitam.

Ahad siang itu memang hari yang penuh amarah dan kejengkelan bagi Roby, apa pasal? Kedua anaknya membuatnya jengkel karena mereka membuat kakacauan dihalaman rumah yang baru saja dia bersihkan. “ plak “  sebuah tamparan mendarat di pantat kedua anaknya yang terbilang masih kecil itu, pecahlah tangisan keduanya dan berlari  memeluk ibunya. Istri Roby yang tentunya ibu kedua anaknya hanya diam, karena kejadian ini bukan satu dua kali terjadi alias beberapa kali dan bicara bukan menyelesaikan masalah untuk meredam amarah Roby. 

Adzan ashar berkumandang. Sebagaimana biasa Roby memenuhi panggilan sholat ashar berjamaah di mesjid yang tidak seberapa jauh dari rumahnya. Selepas Sholat dan dzikir Roby terdiam menyesali apa yang telah diperbuatnya. “Mengapa harus marah bukankah aku sudah mendeklarasikan diri untuk mengendalikan amarah dan kejengkelan, bukankah aku tahu dalil-dalil kejelekan marah dan keutamaan mengendalikannya, bukankah kamu dengan lantang menyampaikan Khutbah diatas mimbar Ied tahun lalu bahwa menahan marah adalah salah satu ciri orang bertaqwa yang dijanjikan surga yang luasnya  seluas langit dan bumi.. Yaa Alloh…” Roby berkata kepada dirinya sendiri. 

************
Tamparan dari Alloh

Senin, selepas sholat subuh Roby bersiap berangkat ke Jakarta untuk bekerja sebagaimana telah berjalan dua bulan terakhir ini. Senang bercampur susah menyertai kepergiannya subuh itu. Senang karena akan terhindar dari penyebab kejengkelan dan susah karena harus berpisah sementara dengan anak-anak dan istri....loh bingung kali si Roby, memang itulah perasaannya subuh itu campur aduk. Sepanjang perjalanan Roby berusaha menghibur diri dengan mendengarkan rekaman siaran ceramah berbahasa sunda dari Ki Balap seorang Kiayi nyentrik asal Bogor. Ceramah yang menceritakan tentang shohibul Hikayat Ki Ahmad itu cukup menghiburnya sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta. Rekaman jadul sekitar tahun enam puluhan ini Roby simpan di dalam ponselnya yang sempat dia banting beberapa hari sebelumnya, tanya kenapa? “MARAH”. 

Panas terik matahari Jakarta tidak menjadikan Roby untuk bermalas-malas melaksanakan aktifitasnya senin siang itu hingga langit barat memerah tanda maghrib. Dengan kopiah krem tua milik almarhum mertuanya, sarung hijau dan koko krem pemberian bosnya tidak lupa parfum “aqua digioman” pilihan sang istri menghiasi langkah Roby ke mesjid jami al-mukhlisin dekat kantor tempat dia bekerja. 

Diantara jamaah mesjid al-mukhlisin ada seorang tua renta yang selalu berada si barisan terdepan dalam shof sholat. Diatas kursinya pak Yono begitu beliau biasa disapa tidak bosan melantunkan sholawat sambil menunggu dikumandangkannya iqomah tanda sholat mulai ditegakkan. Menurut pengakuannya pak Yono berusia sekitar 100 tahun, diusia yang bisa dikatakan uzur itu pak Yono dengan tongkat yang setia menemaninya tetap bersemangat memenuhi panggilan Azan dan berjamaah di mesjid walaupun beliau senantiasa meminta bantuan beberapa orang untuk memboncengnya ke mesjid dan menuntunnya manaiki titian tangga mesjid al-Mukhlisin yang dibangun tiga lantai itu. 

Selepas Sholat maghrib, entah kenapa Roby menyengaja menunggu pak Yono di bibir tangga mesjid. Dia berharap pak Yono memanggilnya untuk diminta bantuan menuntunnya menuruni tangga. Benar juga, pak Yono memanggilnya meminta bantuan. Senyum Roby tersungging menyambut pak Yono. Dituntunnya pak Yono yang masih kuat ingatannya di seusianya namun Pak Yono harus menggunakan alat bantu dengar di telinganya. 
Hal yang biasa dilakukan pak Yono kepada orang yang membantu menuntunnya adalah bercerita tentang dirinya, memberi semangat untuk selalu membantu orang yang membutuhkan bantuan dan tentunya berkenalan. Hal yang selalu Pak Yono katakan dan bisa dikatakan materi reguler adalah sesiapa yang membantu orang tua sepertinya maka dia akan dibantu orang lain tatkala usianya uzur pula beliau ibaratkan seperti seseorang yang menanam padi maka dia akan mendapatkan padi juga, sederhana memang tapi dalam. 

Seperti biasa pak Yono bertanya nama kepada Roby.
“ adik namanya siapa?” tanyanya.
“ Roby Kek” jawab Roby sambil menuntun perlahan Pak Yono menuruni tangga.
“ siapa?? Ruhi??” Tanya pak Yono lagi karena kurang jelas.
“Roby kek R…O… B… Y…Rooo..by” jawab  Roby agak meninggikan volume suaranya.
“ oooo….Roby” pak Yono menyambut.
“ Iya kek…” Roby mengiyakan sambil tersenyum.
“pesan saya buat dik roby.. yaa… kurangi marahnya …kurangi dongkolnya…terutama sama keluarga….ya!!!”kata pak Yono.
“ bagaimana kek??” Roby mendadak budek tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Yono pada dirinya.
“ iyaa…. Kurangi marahnyaaaa… kurangi dongkolnya…terutama kepada keluarga…” tegas Pak Yono.

Serasa ditampar gledek di malam hari  Roby berusaha menahan air matanya, sementara tangannya masih mengenggam tangan pak Yono ingatannya menerawang kepada apa yang telah dilakukan sebelumnya kepada ibu, istri dan kedua anaknya. Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu dengan pak Yono. Roby hanya diam membisu, menyesali perbuatan yang telah dilakukannya selama ini. Ini teguran dari Alloh SWT melalui orang yang tidak disangkanya, orang yang tidak mengenalnya sama sekali kecuali semaghrib itu saja. Tidak pikir panjang Istri dan anaknya di hubunginya, Roby meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya, anaknya hanya mengatakan iya…iya….iya.
Roby berharap kejadian ini menjadi titik awal perubahan yang memang tidak mudah.
“Terima kasih Alloh Kau sudah tampar hamba, bantu aku yaa Alloh, terima kasih pak Yono” bisiknya.