Monday, September 18, 2017

Kebahagiaan Berbagi itu

Meluncur di tol purbaleunyi  menuju ibukota hari ini begitu berbeda. Hatiku begitu lapaaaaang sekali selapang luasnya pandangan ku pada hamparan permadani hijau kebun teh walini , pepohonan , dan gunung-gunung  sepanjang pejalananku. Matahari senja yang secara perlahan turun dibalik awan tebal  memancarkan sinar redupnya menambah romantisnya suasana bahagia hatiku.

Berusaha mereview kegiatan dari pagi hingga saat ini aku teringat Nabi Rasulullah SAW memberikan perumpamaan, “Perumpamaan orang yang pelit dan yang bersedekah, seperti dua orang yang memakai jubah dari besi yang sempit, sehingga kedua tangannya merapat ke dada hingga ke tenggorokannya. Seseorang yang bersedekah, setiap kali dia mengeluarkan sedekah, maka jubahnya menjadi lebar dan tangan serta jari-jemarinya bisa bergerak dengan leluasa. (Shahih Bukhari, 5/5461; Muslim, 2/1021). Ah itulah yang aku rasakan hari ini belum pernah aku selapang ini sebelumnya.

Komando komandan sobat 486 dan Panglima SOSDIK 486 memanggil di WhatsApp pagi ini, aku ragu ikut atau tidak? Karena pagi itu aku sudah punya agenda workshop keamanan computer dan telekomunikasi di salah satu masjid pagi ini hingga dhuhur plus rencana meluncur ke ibukota sore harinya. Membatalkan acara workshop aku susul team SOSDIK 486 ke rumah salah satu sobat yang luar biasa kang Witono di rumahnya sekitar kebonwaru. Jepretan kamera komandan SOSDIK menyambutku di depan rumah kang Wit begitu kami memanggilnya. Ternyata sudah ada kang Iwan dan ceu Ida disana. Kami lihat karya-karya ciamik bergeletakan di meja, mengagumkan. Tenyata itu adalah buah karya putra kang Wit hebaat…..

Selanjutnya team beranjak menuju sobat yang lain ceu Nunung. Menelusuri gang sempit di bilangan cikudapateuh. “Rio the Janeiro nya Bandung” begitu kesan kang Iwan dan kuambil beberapa jepretan sebagai dokumentasi. Bertemu ceu Nunung kami bersyukur, bersilaturahmi sekaligus menyalurkan beasiswa titipan donatur untuk Kevin salah satu putra ceu Nunung yang hobi sepak bola akunya. 

Kang Abet lengkapnya Albert Alawi, siapa yang tidak kenal sosok ini hahahaha….beliau senantiasa hadir dalam setiap kegiatan SOBAt 486 wajahnya senantiasa menghiasi gallery SOBAT 486. Ssstttt dia ketua RW sekaligus pecinta binatang di lingkungannyaa lho…seblak dan cangkaleng nya sudah jadi branding produk SOBAT 486 mengalahkan cireng milikku. Hehehehe. Alhamdulillah beasiswa untuk putri kang Abet yang bercita-cita jadi reporter itu disalurkan. Semoga tercapai cita-citanya..

Ceu Maya istri almarhum Kang Eko Yudho adalah target berikutnya di gang kecil pusat kota Bandung. Selain menyalurkan Beasiswa untuk salah satu putra Almarhun Eko sang Basketers berprestasi, kami banyak menghabiskan waktu di rumah ceu Maya dengan bercerita tentang Kang Eko semoga Alloh merahmati beliau di tempat istirahatnya..aaminn. Kang Eko Yudho almarhum menghadap Sang Pencipta setahun yang lalu tepatnya 14 Ramadhan 1437 H, Alloh yang Maha Rahiim memangginya ketika beliau sedang menjalankan Shaum/puasa Ramadhan selepas Sholat Subuh air wudhunya belumlah kering. Mendengar itu aku berusaha menahan jatuhnya bulir air mata haru dan aku hanya diam sejenak menerawang berdoa dalam hati Yaa Alloh wafatkan aku dalam keadaan Khusnul Khotimah itulah doa yang senantiasa aku panjatkan termasuk sewaktu di multazam depan ka’bah beberapa tahun kebelakang. Break…………..mewek dulu.

Lanjuut..
Ceu Maya juga memperlihatkan beberapa foto dan video kang Eko Yudho  pada masa sakit stroke yang menyerang beliau hingga wafatnya. Ah sudah…..

Siapa yang tidak suka cilok? Ah tidak ada yang angkat jari…itu artinya kalian suka cilok  hhehehe. Makanan sederhana khas sunda ini jadi komoditas jualan kang Atep. Mangkal dengan gerobaknya tak jauh dari rumah mungilnya. Kami temui kang Atep di Mesjid dekat rumahnya. Lepas sholat dhuhur merebahkan badan sejenak menunggu Kang Iwan yang sedang memperbaiki Motor Merahnya karena insiden kecil di “ Rio the Janairo” tigedebut alias jatuh tapi Alhamdulillah Kang Iwan gak apa-apa tapi ada lecet di jalan dikit. Hehehe Piss…

Alhamdulillah seluruh target program SOSDIK 486 menyalurkan donasi baik itu berupa beasiswa pendidikan dan bantuan BPJS terlaksana hari ini, dan kita akan lanjutkan untuk hari-hari berikutnya. Dan kami pun berpencar kembali ke rumah masing-masing.
Sesuai dengan rencana awal saya pun meluncur ke ibu kota Jakarta untuk tugas yang lain. Di situlah aku merasakan kelapangan hati yang luar biasa. Lelahku tak berarti ketika kebahagiaan menyelimuti hatiku sore ini. Akupun berbagi bahagia ini kepada Sobat semua khusunya Team SOSDIK 486 dan para donatur SOBAT OPAT 486 semoga Alloh Melapangkan Rezeki kalian semua.

Benar apa yang di sabdakan utusan Alloh SAW :“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

Bahkan sebuah penelitian Neal Krause dari University of Michigan mengamati 976 orang dewasa yang rajin pergi ke tempat ibadah. Ternyata mereka yang suka bersedekah atau membantu sesama, tidak mengalami kecemasan meskipun situasi ekonominya sedang tidak baik.

Ah…tidak cukup waktu untuk membudalkan kebahagiaan ini semua, TEAM...DONATUR...akan ku sebut nama-nama kalian dalam setiap doa-doaku. Semoga kebahagiaan yang aku rasakan petang ini menghiasi hati-hati kalian juga , Meminjam bahasanya Tukul Arwana kalian memang emeiziiing…….

Baarokallohu fiikum

eh....lupa aku belum transfer....!!!!!!

@kangrud
Tol Purbaleunyi
Medio Ramadhan Karim 1438H/ Juni 2017

16:30

Friday, April 28, 2017

Jelang Ramadhan 1438 H



Rajab mulai masuk pada ujungnya, sya’ban menjelang, Ramadhan datang. Jika saya membaca kisah sikap orang-orang shalih terdahulu terkait ramadhan, saya selalu bertanya mengapa perasaan dan sikapku jauh berbeda dengan mereka?..mereka seolah hamba yang sudah melihat dahsyatnya keutamaan, indahnya kemuliaan, indahnya taman-taman surga, mengerikannya siksa, dahsyatnya neraka dan seterusnya …dan seterusnya.. mari kita lihat bagaimana sikap dan perasaan mereka jauh hari bahkan jauh bulan menjelang Ramadhan.

6 Bulan sebelum Ramadhan

Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Setelah bulan ini tiba, mereka akan menyambutnya sebagai bulan penyuci dosa. Sebagaimana Umar bin Khattab di awal Ramadhan mengatakan, “Selamat datang bulan yang membersihkan kita dari dosa-dosa.”
Bahkan, untuk menyambut bulan yang mulia ini, para khulafaur Rasyidin terbiasa menyampaikan khotbah agar umat tahu tentang keutamaan Ramadhan dan hukum-hukum shaum.

Imam As-Sya’bi meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib berceramah setelah shalat ashar dan subuh untuk menyambut bulan Ramadhan. Di antara isi khutbahnya yaitu:
“Ini adalah bulan penuh berkah. Allah mewajibkan shaum di bulan ini, tapi tidak mewajibkan qiyamul lail. Hati-hatilah kalian, jangan sampai mengatakan. ‘Aku akan shaum jika si fulan shaum. Aku juga akan berbuka jika si fulan berbuka’. Ketahuilah, sesungguhnya shaum itu bukan menahan diri dari makan dan minum. Tapi dari berbohong, berbuat bathil dan hal-hal tak bermanfaat. Jangan mendahului shaum. Jika sudah melihat hilal, berpuasalah. Jika sudah melihatnya berbukalah. Jika hilal tertutup awan, genapkan bulan Sya’ban 30 hari.” (Fadhail Awqat, Al-Baihaqi).

Besarnya harap akan datangnya Ramadhan ini di dorong oleh besarnya kefahaman atau pengetahuan tentang fadhilah, keutamaan dan kemuliaan Ramadhan itu sendiri. Semakin besar pengetahuan kita tentang keutamaan ramadhan sebesar itulah harap kita bertemu dengannya.
Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu mengatakan,

كُوْنُوْا لِقَبُوْلِ اْلعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِاْلعَمَلِ أَلَمْ تَسْمَعُوْا اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَقُوْلُ :إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ

”Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah ’azza wa jalla, [إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ] “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al Maaidah: 27).” (Lathaaiful Ma’arif: 232).

6 bulan setelah Ramadhan

Sebagaimana ucapan Ulama salaf diatas bahwa enam bulan setelah Ramadhan merekapun mengisi hari-hari mereka dengan doa agar amalan yang mereka kerjakan selama Ramadhan diterima Alloh Swt.
Demikianlah sifat yang tertanam dalam diri mereka. Mereka bukanlah kaum yang merasa puas dengan amalan yang telah dikerjakan. Mereka tidaklah termasuk ke dalam golongan yang tertipu akan berbagai amalan yang telah dilakukan. Akan tetapi mereka adalah kaum yang senantiasa merasa khawatir dan takut bahwa amalan yang telah mereka kerjakan justru akan ditolak oleh Allah ta’ala karena adanya kekurangan. Demikianlah sifat seorang mukmin yang mukhlis dalam beribadah kepada Rabb-nya. Allah ta’ala telah menyebutkan karakteristik ini dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُون

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al Mukminun: 60).

Ummul Mukminin, ’Aisyah radliallahu ‘anha ketika mendengar ayat ini, beliau merasa heran dikarenakan tabiat asli manusia ketika telah mengerjakan suatu amal shalih, jiwanya akan merasa senang. Namun dalam ayat ini Allah ta’ala memberitakan suatu kaum yang melakukan amalan shalih, akan tetapi hati mereka justru merasa takut. Maka beliau pun bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ

“Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”
Maka rasulullah pun menjawab,

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

”Tidak wahai ’Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (HR. Tirmidzi nomor 3175. Imam Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihut Tirmidzi nomor 2537).

Dan selepas Ramadhan mereka senantiasa melanjutkan amalan shalih dengan istiqomah. Melanjutkan amalan kebaikan dengan amalan kebaikan lainnya. Karena suatu amal kebaikan jika dikikuti dengan amalan kebaikan lainnya itu adalah tanda diterimanya amalan kebaikan yang pertama dan sebaiknya jika amalan kebaikan di ikuti dengan amalan keburukan maka itu adalah tanda ditolaknya amalan kebaikan yang pertama.
Semoga kita dapat meniru para orang-orang shalih terdahulu. Wallohu Alam Bishowab.

Diambil dari berbagai sumber @kangrud

Thursday, April 6, 2017

REM BLONG DAN PERTOLONGAN ALLOH



Bandung Sabtu, 01 April 2017, aku dan putra ku Hilmi berkemas untuk berangkat silaturahmi kepada salah satu teman kerja, tepatnya di desa Cimenyan Kabupaten Bandung,  desa dengan ketinggian sekitar 700 s/d 1.300 mdpl. Melihat Kota Bandung dari desa ini cukup untuk menghilangkan rasa penat setelah sepekan bekerja. Setelah menempuh jarak dengan waktu normal 30 menit sampailah di desa cimenyan di rumah pak Asep Hidayat. Jengkol, asin, tahu dan lalab-lalaban terhidang dan kami makan siang bersama. Menjelang dhuhur kami pamit pulang. Diperjalanan pulang muncul keinginan untuk melanjutkan perjalanan ke caringin tilu wilayah tertinggi di desa cimenyan yaitu sekitar 1.300 Mdpl. Ku belokkan arah motor matic 125 cc ku ke arah ketinggian. Perjalanan ke caringin tilu melalui jalan berliku dan menanjak cukup tajam. Sampailah di puncak tapi bukan puncak bintang yang memang terdapat di area itu, tapi puncak kekhawatiran saya karena melihat medan tempuh yang cukup tajam aku hentikan motorku di wilayah perkebunan kol, aku tidak tau berapa jauh lagi puncak bintang itu.

Kuputuskan kembali pulang. Melewati jalan menurun cukup tajam ada kekhawatiran dalam hati, aku banyak berdzikir baik ketika pergi menanjak dan kembali turun, takbir dan tasbih menghiasi bibirku sepanjang perjalanan. Begitu pula kuajarkan pada anak lelakiku hilmi agar mengikutinya.
Kedua rem tangan kiri dan kanan bergantian kutekan sepanjang perjalanan menurun. Allohu Akbar rem loss alias blong. Spontan aku berteriak 

,” Loss hilmiiii loooosss rem nyaaa”. 

Motor  melaju semakin kencang karena jalan terus menurun, sementara aku berusaha mengendalikan motorku sedangkan hilmi tidak begitu panik karena dia menganggap aku bercanda, hadeuuhhh…aku melihat tanah kosong di kiri jalan dengan tumpukan kerikil dan tanah, tidak berfikir panjang ku hempaskan motorku ke tumpukan kerikil tersebut dan Alhamdulillah selamat… tak henti-hentinya aku ucapkan syukur kepada Alloh Subhaanahu Wa ta ‘aalaa. Tiba –tiba ada seorang anak kecil muncul entah dari mana datangnya dan berucap

 ,” kunaon pak remna blong?” (kenapa pak remnya blong?)

 “ muhun jang” jawabku, (Iya)

Si anak kecil yang aku gak sempat tanyakan namanya itu langsung mengarahkan saya ke selang air yang menancap di tanah tepi jalan dan menyiramkan air ke arah cakram rem depan, dan wuzzzzzz….ngebulllll. seperti sudah biasa si anak mengajarkan kepadaku jika sudah dingin remnya akan kembali normal, dan itu benar. Sudah kebayang di benakku sebelumnya, aku akan mendorong motorku menurun dari cimenyan ke bawah hadeuuhhh gempoorrrrr....Kuberi tips sebagai rasa terima kasih walau gak seberapa lumayan lah si anak senang dan langsung pergi berlari. Dan aku pulang ke rumah dengan selamat. Anakku hilmi berucap

,” kirain ayah teh main-main” 

kupeluk erat anakku dan kukatakan padanya 

,” ini pertolongan Alloh nak, Jangan lupakan Alloh di setiap saat, sebut namanya, ingatlah Alloh di waktu luang maka Alloh akan mengingat dan menolong kita di waktu kita membutuhkan pertolongannya”.

Hilmi mengangguk.

@kangrud