Jiwa Yang Tenang

Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah kepada Robmu dengan Ridho dan Diridhoi

Ads Here

Thursday, October 23, 2008

Amazing Story

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang disitu
terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal
bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara
membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu
di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang
mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

'Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...! ' Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki dikamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah
berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congak ia menyemburkan ludahnya
ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas
sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu
dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang
pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata Rabbi,
wa ana'abduka.. . Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak
bertakbir sambil berkata, 'Bersabarlah wahai ustadz...InsyaALlah tempatmu
di Syurga.'

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan,
'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan
pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu
keras-keras hingga terjerembab di lantai.

'Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu
itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!
Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam
kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram
dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini.
Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta
Maaf dan masuk agama kami.'

Mendengar 'khutbah' itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap
Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, 'Sungguh...aku sangat
merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat
kucintai, ALlah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan
segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk?
Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.'

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di
wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai
penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya
yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud
memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil
dan menggenggamnya erat-erat.

'Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!' bentak Roberto. 'Haram bagi
tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci
ini!' ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk
mendapatkan buku itu. Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk
menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang
yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.
Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang
yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika
melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang
membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

'Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah
mengenal buku ini.' suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto
membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu
bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan 'aneh' dalam buku itu.
Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak
pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.

Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas
nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda
tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu
tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu
sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat
kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan
dilapangan Inkuisisi [lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia ].

Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa
tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia . Di hujung kiri lapangan,beberapa
puluh wanita berhijab [jilbab] digantung pada tiang-tiang besi yang
terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang
kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di
udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup
pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang
dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu
masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap.
Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu
mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang
gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah
bernyawa, sembari menggayuti abuyanya. Sang bocah berkata dengan suara parau,
'Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji
malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi, cepat
pulang ke rumah ummi...'

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua
menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa.
Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocaah itu berteriak
memanggil bapaknya, 'Abi...Abi.. .Abi...'

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat
kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

'Hai...siapa kamu?!' teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati
sang bocah. 'Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi...' jawab sang bocah
memohon belas kasih.

'Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!' bentak salah seorang dari
mereka. 'Saya Ahmad Izzah...' sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.
Tiba-tiba 'plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.

'Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.
Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf
Roberto'...Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau
sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!' ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak
laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya
keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke
arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat
pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu.
ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris,'Abi. ..Abi...Abi. ..'

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.Fikirannya
terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil
yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang
dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua
ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah.
Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.
Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan
spontan menyebut, 'Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha...'
Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat
yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat
seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

'Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku
pada jalan itu...' Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan
matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh
tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya,
ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran
Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. 'Anakku, pergilah engkau
ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal
dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di
negeri itu,'

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan
berbekal kalimah indah 'Asyahadu anla Illaaha ilAllah, wa asyahadu anna
Muhammad Rasullullah. ..'. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan
tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya
dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang dimasa
muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru
berguru dengannya... ' Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah... 'Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama ALlah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.' [QS>30:30]

No comments: